issue_januari-01

Masterpiece, Serpong—Sempat vakum di era 90-an, dunia perfilman Indonesia dapat dikatakan kini tengah kembali bangkit. Bisa dibilang, deretan film Indonesia di tahun 2017 memberi suatu dorongan dan optimisme baru. Industri perfilman Indonesia memang masih belum dapat dibilang sejajar apalagi lebih maju dibandingkan film-film di negara lain, seperti sebut saja Korea, Eropa, dan Amerika. Namun, ada beberapa musim ketika studio-studio di bioskop lebih banyak menayangkan film Indonesia. Ada masanya pula film-film Indonesia mengungguli film dari negara-negara lain dalam festival film internasional.

Sebut saja film Pengabdi Setan (2017) yang disutradarai oleh Joko Anwar. Walaupun Pengabdi Setan garapan Joko Anwar ini merupakan hasil daur ulang, Joko Anwar tidak secara mentah meniru film orisinilnya. Dengan jarak 35 tahun antara film orisinil dengan remake-nya, tentunya ada elemen-elemen tertentu yang harus diubah. Selain agar memiliki unsur kebaruan, pengubahan ini juga diperlukan agar tetap relevan dengan masyarakat yang menontonnya. Dari segi alur cerita, film ini juga tidak tergesa-gesa dalam membangun konflik dan nuansa horornya. Sebaliknya, film ini menggunakan waktunya untuk perlahan menciptakan suasana menegangkan nan mencekam. Berawal dari seorang ibu yang sakit dan meninggal secara tidak wajar, Pengabdi Setan menceritakan bagaimana ketiga anak yang piatu tersebut mulai dihampiri sosok ibu mereka yang seharusnya telah tiada. Potongan-potongan misteri perlahan terkumpul dan menguak rahasia sang ibu.

 

Film garapan Joko Anwar ini telah menarik sebanyak 4 juta lebih penonton dalam waktu dua bulan. Selain meraup Piala Citra terbanyak tahun 2017, film yang dibintangi oleh Tara Basro ini juga merupakan film Indonesia terlaris yang tayang di Malaysia. Dengan rating IMDB sebesar 8,2/10 Pengabdi Setan juga dikabarkan akan segera tayang di 26 negara lain, termasuk Amerika Serikat, Australia, Swiss, dan Taiwan. Tentunya menjadi tolak ukur baru untuk film horor Indonesia.

 

Lain lagi dengan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017). Mengambil latar di Sumba, Nusa Tenggara Timur, film yang disutradarai oleh Mouly Surya sudah lebih dulu ditampilkan di berbagai festival film Indonesia sebelum tayang di Tanah Air, walaupun hanya di bioskop tertentu. Film yang juga diputar di 18 negara seperti Amerika Serikat dan Kanada ini merupakan pelopor dari genre baru, yaitu satay western: serupa dengan film western atau koboi Amerika, hanya saja bertempat di Indonesia. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak telah memenangkan berbagai penghargaan bertaraf internasional, seperti pada Five Flavors Film Festival, Sitges International Film Festival, dan Tokyo FILMeX.

 

Namun, dari beberapa aspek, film Indonesia masih bisa dibilang jauh dibanding film-film dari negara lain. Dari segi genre sendiri, sinema Indonesia masih cukup terbatas. Dilihat dari napak tilasnya, film Indonesia nyaris tak pernah jauh dari genre-genre klasik seputar kisah-kisah mistis/horor, romansa, komedi, dan drama religi dengan alur yang seringkali berulang. Hal ini kembali pada aspek penulisan cerita, yang sebenarnya bisa dikatakan menjadi tulang punggung sebuah film.

 

Di sisi lain, filmmaker Indonesia kini semakin berani mengusung tema-tema yang beragam. Menurut Dijon, seorang reviewer film melalui akun Instagramnya @dijonmovie, diversifikasi ini menjadi nilai lebih bagi perfilman Indonesia. Ia menyatakan bahwa saat ini bioskop-bioskop di Indonesia sudah mulai diwarnai oleh film-film karya anak bangsa dengan genre beragam, contohnya film superhero berjudul Valentine. Ada juga film bergenre biopik sejarah, yaitu Kartini.

 

“Diversifikasi ini adalah angin segar buat konsumen dan sineas pembuat film. Pecinta film dapat menikmati lebih banyak lagi pilihan film, sedangkan para sineas pembuat film lebih berani lagi berkarya” ungkapnya. Namun, perfilman Indonesia juga masih memiliki kekurangan, terutama dari aspek teknis yang walaupun sebenarnya tidak mengganggu pengalaman menonton para konsumen awam, tetapi tetap memiliki pengaruh pada kualitas film yang dihasilkan.

 

Sebagai medium audio visual, film-film Indonesia terkadang masih menitikberatkan proses pengupasan cerita pada dialog saja sehingga eksposisi pada dialog terlampau banyak, sedangkan elemen visual hanya digunakan sebagai nilai estetis dari film. Alhasil, dialog terkesan berlebih atau tidak organik. Padahal, visual mempunyai andil dalam menggerakan cerita. Ditambah lagi, naskah-naskah yang bagus pun masih memiliki kemungkinan untuk tersendat dalam proses produksi film yang panjang, misalnya dalam masalah pendanaan atau penggarapannya.

 

Dunia perfilman merupakan industri dengan proses produksi yang panjang. Di dalamnya, begitu banyak elemen yang dilibatkan dan elemen-elemen ini saling bersentuhan satu dengan yang lainnya. Menciptakan sebuah keseimbangan antara aspek-aspek yang ada, tentunya dengan tingkat kualitas yang bernilai, menjadi formula dari sebuah karya perfilman yang apik.

 

Seperti industri lainnya, perfilman Indonesia masih punya banyak ruang untuk tumbuh. Kekurangan-kekurangan yang ada dapat menjadi kunci bagi para sineas untuk menerobos standar-standar yang ada, dan kelebihan-kelebihannya merupakan modal. Dan pada ujung rantai, semuanya kembali lagi kepada kita sebagai konsumen.

 

Menurut Winner Wijaya, seorang mahasiswa perfilman, banyak masyarakat Indonesia yang secara otomatis memandang film Indonesia sebelah mata. Padahal, dukungan dari penonton lokal merupakan bagian krusial dalam kebangkitan perfilman Indonesia. Bagi Winner, itulah dimana kekuatan film Indonesia seharusnya terletak – bercerita tentang isu yang dekat dengan para penonton Indonesia. Hal yang tak jauh beda disampaikan oleh Bobby Adrian, seorang alumni mahasiswa Film Universitas Multimedia Nusantara. “Masih banyak orang-orang yang sudah lebih dulu berpandangan negatif sama film lokal, jadi nggak berkeinginan buat nonton film lokal,” ujarnya. Namun menurutnya, stigma negatif ini bisa dipatahkan melalui teknik pemasaran film yang baik.

 

Jadi, bagaimana sikap kita sebagai konsumen menanggapi gejolak perfilman Indonesia?

 

Penulis: Ricky Stevendy, Felicia Margaretha, Alifia Nur Utami

Editor: Felicia Margaretha

 

sumber:

https://www.kompasiana.com/kompasiananews/inilah-alasan-mengapa-film-indonesia-masih-kalah-dengan-film-luar-negeri_58dcdaf22e7a619127f50fec

https://www.rappler.com

https://www.instagram.com/jokoanwar/
https://www.instagram.com/moulysurya/
http://www.imdb.com/title/tt5923026/awards

 

© 2016-2018
Masterpiece Magazine
Media Guidelines