issuemaret-02-1

Masterpiece, Serpong – Foto masih menjadi media favorit masyarakat untuk ‘menyimpan kenangan.’ Berbeda dengan dua puluh tahun yang lalu, kini kita dapat mengambil gambar di mana saja menggunakan gawai yang hasilnya bisa kita bagikan lewat media sosial hanya dalam hitungan detik. Namun beberapa tahun terakhir, orang-orang justru memilih untuk kembali ke cara lama: memotret dengan kamera analog.

 

Tren ini dapat dilihat dari banyaknya foto di Instagram bertagar #indo35mm, #35mmfilm, dan sejenisnya. Kebanyakan dari penggemar fotografi analog adalah generasi millennial yang berumur belasan hingga dua puluh tahunan. Fotografer Tresna Krisnadi Waluya adalah salah satu di antaranya. Tresna mengaku, awal ketertarikannya dengan kamera film adalah keinginan untuk mencoba hal yang baru.

 

“Karena pertama belajar fotografi langsung digital, terus bosan, ‘kan. Terus lihat teman bilang, main analog kayaknya asyik,” ujarnya. “Terus gua coba cari tahu tentang analog. Pas lihat hasil dari kamera analog, warnanya bagus. Setiap film punya karakter sendiri.” Tresna juga mengungkapkan bahwa di awal menggunakan kamera analog, ia menghabiskan hingga 5 gulungan film hingga ia akhirnya memahami cara kerjanya.

 

Hal yang serupa juga dialami oleh mahasiswa jurusan animasi Universitas Bina Nusantara, Gavin Ramadahana Putra, di mana ia menyaksikan saudara sepupunya menggunakan kamera analog. “Hasil foto-fotonya bagus dan juga kayaknya lagi ngetren banget foto-foto pakai kamera analog. Pas akhir Juli (tahun lalu) akhirnya dikasih kamera analog Nikon RD2 dari ayah, yang sebelumnya milik kakek. Sejak saat itu aku jadi seneng sih foto-foto pakai kamera analog,” jelas Gavin.

 

Berbagai kelebihan fotografi analog diutarakan oleh para penggemarnya, salah satunya adalah hasil jepretan yang tampak klasik dan bernuansa vintage, seperti yang dijelaskan mahasiswi jurusan desain grafis Universitas Multimedia Nusantara, Salsabila Tsuraya. “Pakai kamera analog lebih dapat kepuasan jiwa gitu sih, ada style vibe vintage-nya.” Ia juga menambahkan, “Jelas harga kameranya lebih murah, tapi gonta-ganti film sama nyuci (filmnya) jadi PR.”

 

Keterbatasan penggunaan film pada kamera analog justru dianggap kelebihan bagi Tresna. Menurutnya, fotografer akan lebih berhati-hati sebelum menekan tombol shutter agar tidak membuang-buang gulungan film yang tersedia. “Ada sensasi saat motret: pas udah take, kita belum tahu nih, berhasil atau enggak (fotonya). Pas proses develop pun kita harus hati-hati biar gambarnya jadi,” ungkapnya. “(Kita jadi) lebih belajar disiplin saat ambil gambar karena pake film dan harga film mahal, jadi (kita) coba buat gak hambur-hambur frame.”

 

Meskipun sekarang tren kamera analog kembali meningkat, fotografer Bimo Raharjo memilih untuk tetap menggunakan kamera digitalnya. “Dengan menggunakan film, pergerakan fotografer jadi terbatas karena terdapat limit dalam satu roll film, sedangkan kalau digital tidak ada batas. Dari segi kreativitas juga jadi sedikit terhambat,” jelasnya bertolak belakang dengan pandangan Tresna.

 

Proses pencuci-cetakan film pun dinilai merepotkan, ditambah dengan usia film yang terbatas dan mampu memengaruhi hasil foto. “Nah untuk mencuci film itu repot, mengeluarkan biaya lagi dan memakan waktu. Jadi tidak efisien.” Bimo juga menimpalkan, “Ditambah lagi, dulu sering terjadi kasus orang yang lupa ‘menggulung roll’ saat roll (film) masih ada di dalam kamera. Alhasil data foto hilang semua.”

 

Biaya yang harus dikeluarkan secara berkala oleh fotografer analog pun menjadi keluhan Bimo. “Harga roll filmnya mahal. Ini lebih subjektif sih, karena mahal itu, ‘kan, relatif, tapi kalau buat aku ya cukup berasa. Apalagi buat orang yang suka mencoba hal-hal baru dalam dunia fotografi saat ini, harus menyediakan stok roll film yang banyak untuk menunjang kreativitasnya,” kata Bimo mengakui. “(Apalagi) kualitas film mempengaruhi hasil, kalau kita beli roll film yang bagus, warna foto saat dicetak bedanya gak akan terlalu jauh (dengan yang digital). Tapi kalau kita beli yang agak murah itu bedanya jauh.”

 

Keluhan yang serupa disetujui oleh mahasiswa jurusan film Universitas Multimedia Nusantara, Novandry Edwin Christianto. Keterbatasan film dan pengoperasian pada kamera analog menjadi alasannya untuk tetap memilih kamera digital. “Kapasitas filmnya terbatas, ISO (ASA, sensitivitas medium penangkap gambar terhadap cahaya) tergantung dari film,” jawabnya ketika dimintai pendapat terkait kamera analog dan digital. “(Kamera analog juga) kurang bisa diajak gerak cepat.”

 

Mengenai tren fotografi film, Bimo berpendapat bahwa anak-anak muda zaman sekarang hanya penasaran karena belum sempat ‘memegang’ kamera analog. Bagi mereka yang sudah merasakan fotografi film di masa kejayaannya, lebih banyak yang akhirnya beralih ke kamera digital seiring dengan berkembangnya teknologi.

 

“Sebenarnya seperti apa sih rasanya pakai kamera analog, mereka mau merasakan hype-nya. Sementara kalau kami yang pernah merasakan pakai kamera analog, khususnya generasi yang lebih tua dari aku, yang pakai kamera analog untuk kerja, kebanyakan sih udah gak mau pakai kamera analog.” Bimo juga menambahkan bahwa tren kamera analog tidak akan bertahan lama, karena masyarakat Indonesia kebanyakan hanya terbawa euforia. Selain itu, ia menilai bahwa generasi millennial juga dikenal tidak mau repot, padahal fotografi film membutuhkan perawatan dan langkah-langkah yang panjang.

 

Perkembangan teknologi telah mengikis popularitas kamera analog sejak awal abad ke-21. Walaupun mayoritas fotografer profesional telah beralih ke kamera digital karena tuntutan pekerjaan, generasi millennial menemukan kembali pesona fotografi film.

Kamu sendiri, mau mencoba keluar dari era digital dengan mencoba kamera analog?

 

Jurnalis: Alifia Nur Utami, Della Saraswati

Editor: Yolanda Chailani

Sumber: Wawancara pribadi

© 2016-2018
Masterpiece Magazine
Media Guidelines