dsc_8259

Masterpiece, Tangerang – Menggunakan seni sebagai media ekspresi, Art Week 2018 yang digelar oleh Universitas Prasetiya Mulya di Breeze Art Space, BSD, Tangerang, menjadi penyampai emosi dan perasaan para seniman lokal Indonesia kepada pengujungnya. Mengusung tema ‘Asa Rasa’ yang bermakna harapan terhadap perasaan, Art Week di tahun ketiganya, dimeriahkan dengan rangkaian acara lokakarya, malam pembukaan dan penghargaan, dan pameran karya. Lokakarya sebagai pre-event telah terlebih dahulu berlangsung pada 21-22 April lalu, sementara malam pembukaan yang mengundang tamu VIP dan media berlangsung pada hari pertama ekshibisi, yaitu hari Kamis, 10 Mei 2018. Pameran untuk publik dibuka sejak tanggal 10 Mei pukul 20.00 WIB hingga tanggal 13 Mei 2018.

 

Sebanyak lebih dari 50 instalasi berupa fotografi, seni lukis, seni digital, eksperimental, hingga puisi dipajang sesuai dengan rasa yang diekspresikan. Karya-karya seni tersebut sebagiannya merupakan karya yang dilombakan dan sebagiannya lagi merupakan hasil kolaborasi dengan beberapa seniman lokal. Terdapat juri untuk masing-masing kategori yang juga menampilkan karya mereka di Art Week 2018, yaitu Farah Shafia (fotografi), Sapardi Djoko Damono (puisi), M. S. Alwi (seni lukis), dan Seto Adi Witonoyo (seni digital).

 

Ketua Art Week 2018 Aldy Adrian menyampaikan bahwa kelima kategori tersebut dipilih sebagai medium ekspresi karena mampu menjadi wadah yang sesuai dengan tema Art Week tahun ini, yaitu emosi. “Sebenarnya dari tahun lalu juga sudah ada fotografi, ada painting (tradisional dan digital). Mungkin lebih kayak, kalo puisi, lebih cocok ke tema tahun ini, Asa Rasa, jadi memang lebih, pengen ningkatin emosi-emosi dari puisi …. Jadi kayak, gua pengen mengedukasi lewat bidang seni seperti itu,” jelas Aldy.

   

Ruang pameran dibagi menjadi lima bilik yang masing-masing merepresentasikan emosi: Gempita, Amarah, Hampa, Lara, dan Renjana. Aldy menambahkan, kelima emosi tersebut dipilih karena dianggap sebagai perasaan-perasaan dasar yang dialami oleh manusia. “Kenapa lima emosi itu, karena lima emosi itu merepresentasikan emosi-emosi yang ada di setiap harinya. … Orang-orang tuh sudah pernah merasakan lima emosi tersebut,” jelas mahasiswa bisnis angkatan 2015 itu.

 

Tiap pojok dari ekshibisi memberikan nuansa yang berbeda-beda. Dari pintu masuk, pengunjung disambut dengan ruang Gempita yang serupa dengan kebahagiaan. Warna-warna cerah dan ekspresi-ekspresi kegembiraan dapat ditemukan dari instalasi-instalasi seni di pojok tersebut. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah kolam bola dengan balon berbentuk unicorn besar yang “mengapung” di atasnya yang berjudul ‘Childhood Pool’.

 

Di bilik berikutnya, pengunjung disambut dengan nuansa warna merah yang seakan memberi peringatan bahwa pengunjung telah memasuki bilik Amarah. Pojok Amarah memiliki instalasi seni yang lebih banyak dibandingkan pojok emosi lainnya dan didominasi karya eksperimental. Salah satu yang dipamerkan adalah instalasi ‘The Truth will Set You Free, But First It will P*ss You Off’  karya M.S. Alwi. Instalasi serba merah itu dilengkapi dengan kamera CCTV, LED moving sign, dan televisi yang menampilkan kata-kata yang seakan mengungkapkan bahwa kita bukanlah orang yang spesial.

 

Bilik Hampa dihiasi dengan karya-karya bernuansa warna pucat dan monokrom, sedangkan pojok Lara didominasi oleh puisi. Ekshibisi Renjana yang mengekspresikan kasih menjadi bagian yang juga terdiri dari banyak warna setelah Gempita, terlepas dari cahaya merah jambu yang memenuhi sudut ruangan. Terdapat instalasi Perut Ibu yang berupa tenda. Pengunjung dipersilakan untuk masuk dan “mengingat” kembali rasanya berada di rahim ibu.

 

Di Art Week kali ini, Aldy menyebutkan bahwa salah satu targetnya adalah untuk lebih mengedukasi masyarakat muda tentang emosi dan perasaan pada karya seni. “Sebenarnya kalau di tahun pertama itu mungkin lebih kayak kecil-kecilan doang. Di tahun kedua lebih naik lagi, kayak orang-orang mulai ngerasa, ‘Oh, seni tuh kayak gini nih,’ kayak, baru mulai foto-foto, mulai viral, dan juga orang-orang sudah mulai hype tentang art exhibition,” ungkapnya. “Terus di tahun ini, gua pengen ngangkat (untuk) lebih mengedukasi orang-orang yang datang, (supaya) gak cuma foto-foto doang, tapi dapat sesuatu, dapat emotion yang memang kita sediakan di sini.”

 

Salah satu pengunjung sekaligus peserta submission pameran Fefia Sufiarsih menyebutkan bahwa ketika kata-kata tidak mampu mewakili emosi, karya seni menjadi penyambung rasa. Lukisan Fefia berjudul ‘Manalara Manalacur’  yang bercerita tentang cinta di pajang di bilik Renjana.

 

“Aku mengimplementasikan cinta itu nggak selalu tentang rasa kasih sayang atau rasa mencintai atau rasa yang senang-senang. Jadi aku pengen, kayak, implementasiin cinta itu bisa jadi sesuatu yang rapuh, gitu. Sesuatu yang lebih melankolis, dan lebih, apa ya, kayak, merasa jijik gitu lho. Kita bisa merasa jijik sama diri sendiri karena cinta gitu lho,” jelas mahasiswi Seni Rupa Institut Teknologi Bandung itu. “Sebenarnya kalau dijelasin secara verbal jadinya cringe banget, makanya aku lebih suka, kayak, kalau kata-kata yang cringe gitu aku tuangin dalam lukisan, gitu.”

 

Di tahun berikutnya, Aldy berharap Art Week dapat memberikan dampak positif bagi generasi muda, khususnya dalam meningkatkan kepedulian terhadap industri seni di Tanah Air. “Harapannya sih mungkin lebih, bisa lebih berkembang lagi, bisa lebih ngebawa dampak yang positif ke mahasiswa-mahasiswa, generasi-generasi muda khususnya, buat lebih ningkatin rasa kepedulian mereka di industri seni, buat lebih mengapresiasi dunia seni, supaya orang-orang yang cinta seni, cinta sama hal-hal yang kayak gini tuh lebih terapresiasi dan lebih di-highlight di Indonesia.”

 

Jurnalis: Alifia Nur Utami

Editor: Yolanda Chailani

Fotografer: Ovita Pattari Purnamadjaya

 

dsc_8106 dsc_8110 dsc_8220 dsc_8170 dsc_8268 dsc_8225dsc_8188  dsc_8265  dsc_8228

© 2016-2018
Masterpiece Magazine
Media Guidelines