mwluts13

Masterpiece, Jakarta – Masterwork yang mengangkat tema “Creatively Sneaky” diselenggarakan pada tanggal 21 April 2018 di Jakarta Creative Hub, Jakarta. Lokakarya ini dibawakan oleh empat pembicara dari Studio Tomodachi, yakni Basith, Jake, Kemas (kemasacil), dan Ikhwan (aftergani).

 

Masterwork diawali dengan sesi diskusi ringan yang diiringi live demo oleh Ikhwan atau lebih dikenal sebagai aftergani di Instagram. Selama live demo berlangsung, para pembicara juga menjelaskan proses yang telah mereka lalui sehingga dapat menghasilkan suatu karya yang memuaskan.

 

Fasilitator menjelaskan, tahap pertama dari pembuatan karya adalah sketsa. Sketsa sangat penting untuk mencari sudut pandang (angle) dan komposisi yang cocok dan menarik untuk membuat gambar yang lebih dinamis. Menentukan komposisi adalah tahap proses yang paling memakan waktu karena dari komposisi tertentu dapat menghasilkan pesan yang berbeda.

 

Setelah sketsa rampung, tahap kedua mengarah pada pencarian warna yang sesuai. Salah satu tips dari para pembicara adalah menggunakan warna yang dingin dipandu dengan warna yang hangat. Ketika titik tengah antara warna hangat dan dingin ditemukan, di sanalah terdapat suatu kesatuan. Biasanya sebelum mulai mewarnai, pembicara juga mencari referensi baik dari ilustrasi lain atau foto. Setelah pemilihan warna, sketsa awal yang masih berantakan bisa dirapikan, lalu berlanjut ke tahap finishing yaitu seperti lineart.

 

Sebelum peserta memulai proses sketsa, mereka diingatkan kembali bahwa terdapat dasar utama yang harus dimengerti, yaitu hal-hal fundamental dalam membuat ilustrasi, seperti anatomi dan gestur. Aturan-aturan utama tersebut harus dipahami sebelum dapat digabungkan dengan referensi lain untuk menciptakan sesuatu yang baru. “If you want to break the rules, learn the rules first!” ujar Basith.

 

Untuk lebih mendalami materi, peserta kemudian diberikan waktu 30 menit untuk menggambar karakter yang mereka gemari tanpa referensi. Kemudian setelah selesai menggambar, masing-masing karya akan dievaluasi oleh Basith dan Kemas untuk melihat sisi mana yang dapat dikembangkan dan potensi mana yang harus dipertahankan.

 

Dari hasil evaluasi tersebut diketahui bahwa poin penting pertama adalah mengetahui apa yang harus kita sampaikan dan apa yang harus kita gambar. Karena jika kita tidak mengetahui hal apa yang ingin kita sampaikan dan dengan bentuk apa, nantinya ilustrasi tidak dapat dimengerti oleh yang menyaksikan. Poin penting kedua adalah menentukan konsep dan jika memiliki lebih dari satu objek, tentukan korelasi antarobjek dengan menyatukannya menjadi sebuah gambar besar. Baru kemudian seseorang dapat menghasilkan suatu cerita yang, walau tanpa diwarnai (hanya lineart), sudah dapat dimengerti dan terasa relevan.

 

Ketika bergerak di bidang industri, hal penting lainnya adalah kerja sama atau teamwork. Peserta kemudian dibagi menjadi kelompok yang masing-masing terdiri dari empat orang untuk lanjut menentukan sebuah konsep. Tiap anggota membuat aset ataupun karakter yang dapat mendukung konsep tersebut. Masing-masing kelompok diberikan tema dunia alternatif dan mereka diperbolehkan untuk mencari referensi dari internet.

 

Sesi ini lebih mendalami tentang pengumpulan berbagai referensi yang dapat disatukan, lalu mengembangkan kumpulan ide tersebut menjadi sesuatu yang baru dan menarik. Peserta diberikan waktu 1 jam, lalu fasilitator dari Studio Tomodachi membantu mengevaluasi. Dapat dilihat bahwa ilustrasi yang dihasilkan dengan adanya gabungan dari berbagai referensi dapat menghasilkan sesuatu yang sudah lebih berbobot dan cerita yang dibangun juga sudah mulai terbentuk.

 

Pembicara menekankan bahwa beberapa hal teknis seperti permainan perspektif dan mencari referensi dari berbagai sumber dapat mendukung poin fundamental awal dalam ilustrasi tersebut. Contohnya, mengulik foto gedung-gedung dan arsitektur untuk bantu menjadi referensi bentuk dan perspektif, ataupun menggali tentang fashion untuk menciptakan baju yang cocok pada skenario tertentu.

 

Hal terakhir yang ditekankan adalah pembangunan referensi dalam kelompok. Karena ketika bekerja dalam tim, baiknya untuk saling bertanya atau saling mengkaji karya masing-masing karena tiap orang memiliki penilaian tertentu dari suatu hal dan penilaian tersebut bisa menjadi referensi yang baik untuk mengembangkan gambar.

 

Jurnalis : Everalda Oktavian

Editor : Alifia Nur Utami

Fotografer : Juan Cokropanus & Jason FS

 

dsc00669 mwluts7 mwluts15

© 2016-2018
Masterpiece Magazine
Media Guidelines