gumpitaig

Masterpiece, Serpong – Menekuni perancangan typeface merupakan jalan yang dipilih salah satu desainer grafis Indonesia, Gumpita Rahayu. Di usianya yang masih muda, Ia telah mendirikan sebuah studio perancangan custom typeface bernama Tokotype. Mari kita simak perjalanan seorang Gumpita hingga ia menjadi seorang perancang typeface dalam artikel berikut ini.

 

Biodata

Nama Lengkap : Gumpita Rahayu

Nama Alias : Gumpita

Tempat, tanggal lahir : Bandung, 08 Februari 1991

Pendidikan : Diploma 3, UNIKOM Bandung.

Profesi : Co-Founder & Type Designer

Pengalaman kerja : Ouval Research 2014-2016 / Tokotype 2015-Presents

Kontak gumpita@tokotypefaces.com / 081218866809

 

Q & A: Cerita Dibalik Seorang Perancang Typeface

Q: Dari sekian banyak ranah desain grafis, mengapa kak Gumpita memilih untuk fokus pada perancangan typeface?

A:Karena ini merupakan suatu ilmu fundamental, di mana setiap desainer grafis harus bisa memahami segala detail di dalamnya. Saya memilih fokus sebagai typeface designer karena typeface merupakan sesuatu yang unik dan tidak ada habisnya jika dipelajari, dengan lebih mengutamakan proses ‘crafting‘ karakter serupa yang saling berhubungan untuk membentuk satu kesatuan. Adalah hal yang sangat luar biasa menjalaninya.

 

Q: Tokoh-tokoh perancang typeface dan sumber untuk mempelajari ranah ini belum banyak di Indonesia. Bagaimana prosesnya kak Gumpita dalam mempelajari perancangan typeface ini? (Mohon sebutkan beberapa buku atau studi literatur lain, dosen/pengajar lain, dsb).

A: Awal mula saya mempelajarinya yaitu melalui mata kuliah tipografi di kampus dulu. Tetapi tidak begitu detail dan hanya dikenalkan lewat struktur anatomy typeface. Dari situ saya tahu dasar-dasarnya namun saya tidak terlalu tertarik dan bahkan hasilnya pun masih asal-asalan. Setelah saya lulus, saya baru mulai tertarik mempelajarinya dengan niat yang lebih serius lewat beberapa blog tutorial di internet serta buku-buku referensi. Seiring berjalannya waktu, saya terus belajar dan melalui beberapa proses. Mulai dari hal yang dasar hingga detail lebih mendalam, semuanya saya lakukan secara bertahap, serta beberapa referensi dari buku-buku import. Namun itu semua hanyalah sebagian dari apa yang seharusnya dipelajari. In the end, typeface design adalah sesuatu yang lebih dilakukan secara praktikal dan diperlukan waktu yang banyak untuk lebih mengenal dan menghargai setiap proses didalamnya.

Buku-buku yang dapat dijadikan referensi:

  • The Stroke: Theory of Writing by Gerrit Noordzij
  • Thinking with Type Book by Ellen Lupton
  • Visual Corrections in typeface design by Shoko Mugikura

( https://blog.justanotherfoundry.com/2015/12/visual-corrections-in-type-design-animated/ )

 

Q: Apakah kak Gumpita mempunyai idola di bidang tipografi baik dari Indonesia maupun dari luar negeri? Apa hal yang kakak kagumi dari orang-orang tesebut dan apakah style mereka turut mempengaruhi perancangan typeface kakak saat ini?

A: Lumayan banyak, ada beberapa dari Indonesia juga. Mungkin dari luar saya suka dengan Adrian Frutiger, Mark Simonson, Christoph Koeberlin, Thierry Blancpain, Laurenz Burner, Jeremy Mickel, Tobias Frere Jones, dan masih banyak lagi. Dari lokal sendiri saya suka dengan Andi Aw. Masry, Ilham Herry, dan Aditya Bayu.

Mungkin beberapa orang tersebut sedikit mempengaruhi proses dan style yang saya usung saat ini, tapi pada akhirnya kita harus selalu tahu dimana kita akan memposisikan diri kita sendiri tanpa terpengaruh oleh hasil dari orang lain, am I right? 😉 

 

Q: Menurut kak Gumpita, bagaimana perkembangan perancangan typeface di Indonesia? Bagaimana kehadiran kakak diharapkan dapat menjadi bagian dari perkembangan tersebut?

A: Sudah sangat berkembang industrinya dan banyak pemain baru dan lama juga yang menggeluti bidang ini. Namun dari sekian banyaknya type designer di Indonesia, kurangnya perhatian para desainer profesional dan juga design student disini yang menghargai dan tahu akan output design yang dihasilkan oleh type designer lokal, karena pada dasarnya main target type designer adalah khalayak internasional di banding di lokal sendiri.

Mungkin dengan peran saya disini belum banyak membantu industri type design di Indonesia, akan tetapi sedikit demi sedikit yang bisa saya coba lakukan adalah memperkenalkan lebih jauh kepada publik serta memberikan edukasi yang cukup untuk dapat dipahami masyarakat luas mengenai typeface design beserta detil didalamnya. I hope so.

 

 

Jurnalis: Ovita Pattari Purnamadjaya

Editor: Yolanda Chailani

© 2016-2018
Masterpiece Magazine
Media Guidelines