Processed with VSCO with j2 preset

Masterpiece, Jakarta – Sabtu (10/3) pukul 12:00 Goethe-Institut Jakarta membuka pintu mereka untuk para pendatang Film Musik Makan (FMM), sebuah acara yang diselangarakan oleh kolektif. Kolektif berfokus kepada distribusi dan apresiasi film melalui pemutaran film, serta mendekatkan antara pembuat film dan penonton.

 

Kolektif secara rutin telah melaksanakan FMM sejak 2015. Tahun ini, mereka mengadakan tiga program yaitu dua program penayangan film karya para pembuat film Indonesia berserta sesi tanya-jawab dan satu program penayangan film Thailand. Serta ada pertunjukan live-musik sebelum program terakhir.

 

Suasana di Goethe-Institut ramai oleh para penikmat film, dinding yang dihias oleh poster-poster film yang akan ditayang dan program acara tahun-tahun sebelumnya. Di halaman belakang terdapat bazaar makanan menambah ramai suasana.

 

Gayatri Nadya atau bisa dipanggil Nana, sebagai program manager, menjelaskan bahwa film yang terpilih lebih berfokus kepada tahun pembuatan dibanding tema atau gagasan tertentu. Mereka ingin menayangkan film-film terbaru dalam acara tahun ini.

 

Pukul 13:00 suara gong berbunyi dan pintu tempat pemutaranpun dibuka dan semua orang mulai berbaris. Tak lama setelah para penonton sudah duduk, lampu mulai dipandamkan dan film mulai ditanyangkan, progam satu telah dimulai.

 

Program satu menayang film-film pendek dari berbagai pembuat film Indonesia, terlihat beberapa datang ke acara FMM ini. Film-Film yang ditayangkan pada program satu yaitu Joko, karya Suryo Wiyogo yang masuk kompetisi Singepore International Film Festival 2017, Happy Family karya Eden Junjung yang pernah terpilih diajang Valletta Film Festival, Matla 2017, dan Official Selection di Bridge of Arts International Film Festival, Madonna karya Sinung Winahyoko yang menangi Best Shorts di Busan International Film Festival, Elegi Melodi karya Jason Iskandar, dan Waung karya Wregas yang tayang perdana. Setelah menayang film-film tersebut, ada sesi tanya-jawab dengan para pembuat film.

 

Film kedua, Malila: The Farewell Flower, yang dimulai pada pukul 16:00 adalah film dari Thailand, tetapi film ini memberikan Kim Ji-Soek, sang pembuat film, sebuah penghargaan dari Busan International Film Festival.

 

Lalu, pada pukul 19:00 datanglah ke penghujung acara. Gong berbunyi dan para penonton mulai mengantri lagi. Program ke-3 ini diawali oleh petunjukan dari RENTAL VIDEO, yaitu sebuah proyek kolaborasi music yang dibentuk oleh Adrian Yunan (mantan basis Efek Rumah Kaca), Harlan, dan Andri Boer. Kolaborasi proyek musik akustik ini terinspirasi dari pengalaman menonton film-film Indonesia di era dewa kaset video.

 

Sejam kemudian, baru film kedua diputar. Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran, menjadi film panjang keempat dari Ismail Basbeth. Film ini terdiri dari lima cerita pendek, dan semuanya melibatkan mobil jip hijau. Film ini sudah pernah keliling dunia sampai Tokyo International Film Festival 2017, dan masuk kompetisi di Busan International Film Festival 2017. Film ini memiliki karakter yang menarik dan visual storytelling yang berbeda.

 

Nana berharap mereka bisa membawakan festival ini ke kota lain seperti Surabaya, Makasar, atau Balikpapan dengan karakter-karakter yang berbeda serta berharap kedepannya bisa memutarkan lebih banyak film pendek.

 

 

Jurnalis: Niska H. Utami

Editor: Florentina Sukmawati

Fotografer: Juan Cukro

 

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with j2 preset

Processed with VSCO with a6 preset

  • Sindhu Kriswiranda

    Mantap

© 2016-2018
Masterpiece Magazine
Media Guidelines