motwmaret-02

Masterpiece, Serpong – Kamera digital dengan segala fiturnya yang canggih memang lebih sering digunakan oleh banyak orang, mulai dari fotografer amatir hingga profesional. Namun akhir-akhir ini fotografi analog kembali menjadi tren, menemukan tempatnya di hati banyak orang. Antusias yang tinggi terhadap kamera dengan roll film ini bahkan melahirkan banyak komunitas penggemar kamera analog. Berbicara tentang dunia fotografi, nama Carol Kuntjoro tidak lagi asing dalam dunia fotografer. Berprofesi sebagai fotografer pernikahan, Carol merupakan salah satu fotografer perempuan di Indonesia yang begitu berbakat di bidangnya dan menjadi inspirasi banyak orang. Perempuan kelahiran Surabaya ini khususnya memfokuskan dirinya pada fotografi analog. Bagaimana impresi seorang Carol Kuntjoro terhadap fotografi analog?

 

Biodata: Nama: Carol Kuntjoro

Tempat, tanggal lahir: Surabaya, 20 Juli 1989

Pekerjaan saat ini: Fotografer dan ibu rumah tangga

Alma mater: IMI-Belgium

 

Q: Menurut Anda, apa makna fotografi?

A: Makna fotografi bagi saya secara personal adalah terapi dan penyaluran ekspresi, di luar fungsinya sebagai sarana dokumentasi. 

 

Q: Belakangan ini, fotografi analog kembali booming di kalangan anak muda. Menurut Anda, mengapa tren kamera analog dapat kembali hadir?

A: Media sosial memiliki peran yang besar pada bangkitnya fotografi analog. Saat komunitas dan publisitas meningkat, makin banyak orang yang mau mencoba dan beberapa di antaranya menjadi kecanduan, dan bisnis pendukung pun otomatis mulai menjamur juga.

 

Q: Anda sendiri menggunakan kamera analog untuk fotografi komersil (pra pernikahan, keluarga, produk, dan sebagainya). Apa yang membuat Anda tertantang menggunakan kamera analog untuk fotografi komersil?

A: Kebetulan sudah sejak lama saya menjadi penggemar kamera analog, sehingga saat saya menjadikan fotografi sebagai profesi, analog menjadi salah satu opsi yang terbesar.

 

Q: Bagaimana hasil foto kamera analog berbeda dengan kamera digital dan bagaimana hasil tersebut mempengaruhi pekerjaan Anda?

A: Menurut saya, setiap kamera memiliki karakternya masing masing. Jangankan kamera analog dan digital, sesama kamera digital yang berbeda tipe saja hasilnya juga berbeda. Kebetulan kamera analog yang saya gunakan adalah medium format dimana dimensi yang dihasilkan lebih dalam dari kamera dengan format full frame atau 35mm.

 

Q: Bagaimana perjalanan Anda dalam dunia fotografi, khususnya perjalanan Anda menggunakan kamera analog? Siapa yang menginspirasi Anda dan adakah cerita unik di dalamnya?

A: Kebetulan saya adalah kolektor kamera tua jauh dari sebelum saya memutuskan untuk berkecimpung di bidang ini. Jadi komunitas dan support system saat saya menekuni fotografi sudah memadai, mulai dari lab, penyedia stok film, dan lain sebagainya. Banyak sekali fotografer yang menginspirasi saya. Tapi jika diingat, orang yang memiliki pengaruh besar pada awal saya memotret adalah guru saya sendiri. Beliau adalah fotografer analog yang menggunakan large format. Beliau yang menginspirasi saya untuk menjaga idealisme dan melatih mata saya untuk melihat hal yang tersembunyi dari setiap peristiwa. Namanya adalah Nandakumar.

 

Q: Apa saja bagian terbaik dari menjadi seorang fotografer analog?

A: Bagian terbaiknya adalah pekerjaan kita lebih mudah, karena semua hasil adalah dari kerja sama beberapa pihak, maka pekerjaan terasa lebih ringan. Kebetulan saya selalu mempercayakan proses cuci dan scan di beberapa lab yang adalah kawan sendiri. Post production yang biasa saya lakukan sendiri saat memotret digital, diambil alih oleh mereka yang ahli di bidangnya. Saya hanya menunggu saja seperti menunggu kado.

 

Q: Dapat dikatakan bahwa penggunaan kamera analog lebih berisiko daripada kamera digital yang dapat dikontrol dari berbagai aspek. Namun, mengapa Anda tetap memilih menggunakan kamera analog untuk pekerjaan? Pernahkah kejadian tak terduga terjadi saat melakukan pemotretan dengan kamera analog.

A: Dari segi risiko, saya rasa semua jenis pasti ada resiko masing-masing. Analog dan digital memiliki risiko yang sama besar. Hanya saja teknis resikonya berbeda. Jadi untuk memilih kamera analog atau digital sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan. Seringkali kejadian tak terduga yang saya alami adalah hal yang positif, di mana hasil yang saya dapatkan melebihi ekspektasi saya.

 

Q: Apa pesan Anda untuk para fotografer pemula (terutama analog) yang belum percaya diri untuk masuk ke dalam fotografi komersil?

A: Pada hakikatnya, fotografi adalah salah satu bentuk seni, sehingga bagaimanapun hasilnya, itu merupakan curahan ekspresi dari pembuatnya. Tidak ada yang terbaik atau terburuk. Jika memang sudah bahagia dengan karya yang kita hasilkan, tidak ada salahnya jika membuka diri untuk apresiasi dari orang lain, dalam hal ini bisa berarti client.

 

Jurnalis: Ricko Kennardy

Editor: Felicia Margaretha

© 2016-2018
Masterpiece Magazine
Media Guidelines